Sangatlah
kompleks masalah yang ada di Indonesia saat ini, di setor ekonomi kita hanya
menjadi pengemis royalti dari para investor asing dan menjadi tukang impor
alias anak bawang dalam pasar terbuka. Pada pendidikan, mungkin angka kelulusan
sarjana kita berada teratas di asia tenggara, tapi angka pengangguran Indonesia
juga berada di peringkat paling atas. Dalam sektor politik, tak diragukan lagi,
sudah banyak prestasi yang diraih oleh negara ini terkait dengan KKN yang sudah
menjadi budaya politik di negeri ini. Lalu bagaimana dengan “BUDAYA”?,selamat
mengarungi selokan makna! .
Budaya yang sejatinya menjadi jatidiri
suatu bangsa tak tampak dalam negara ini, budaya yang sejatinya bisa
dibanggakan terasa hilang, dan tak berarti lagi. Kenapa bisa seperti ini????
Banyaknya
budaya asing yang masuk sebagai dampak globalisasi dan kurangnya minat dari
rakyat terhadap budaya nasional mungkin jawaban yang pas atas pertanyaan
tersebut. Tapi apakah itu saja???, coba simak kutipan pidato Bung Karno yang
satu ini! “"capailah
satu negara kesatuan republik Indonesia. republik yg kuat berwilayah kekuasaan
sabang sampai marauke. capailah kebudayaan sendiri di atas kaki sendiri. di
atas kepribadian sendiri-sendiri. Maka itu hey. pemuda-pemuda!! awas-awas!.
kalau masih ada sasak-sasakan! kalau masi ada beatle-beatle-an!! kalau masih
ada rock and roll. rock and roll-an!! ya seperti kawanmu yang bernama kus
bersaudara itu! apa itu? apa tidak
punya kita lagu sendiri yang sesuai dengan kepribadian indonesia sendiri? knapa
mesti tiru elvis presley. elvis presley-an"” betapa
pedulinya beliau terhadap pentingnya budaya bagi negara ini, sampai – sampai
waktu itu koes plus sebagai band yang di klaim plagiat dengan the beatles,
mulai dari aliran musiknya, cara berpakaiannya, dan koreografi saat di panggung
harus dipaksa masuk bui atas kelakuannya tak hanya itu satpol pp di kala itu
kerap kali menyidak orang - orang yang berpenampilan sedemikian rupa dengan
cara langsung memotong rambutnya atau bahkan menjebloskan mereka ke penjara
juga.
Secara kasat mata kebijakan ini
cenderung represif, tapi dibalik itu semua terselip tujuan yang sangat mulia,
yaitu membentuk karakter bangsa ini, bukan dengan cara mencontoh budaya orang
lain dan sebagai plagiator yang sangat membanggakan budaya milik orang lain
sedangkan budaya sendiri ia tinggalkan. Dan itu pun diakui oleh koes bersaudara
kala itu yang mengakui bahwa yang mereka lakukan adalah salah dan sangat
merusak reputasi budaya nasional Indonesia sendiri. Namun ketika Soekarno
mundur dan dibarengi dengan bebasnya koes bersaudara kala itu, Soeharto yang
baru diangkat langsung mengambil hati rakyatnya dengan menjadikan kebebasan
koes bersaudara sebagai maskot kebebasan berekspresi dan berkarya kala itu,
mereka di perbolehkan membawa lagu apa saja, mulai dari rock, blues, atau apa
saja asalkan tidak ada lirik yang mengkritik pemerintah waktu itu, disini jelas
betapa sang pemimpin yang lebih memilih
menjaga reputasinya dari kritikan rakyatnya sendiri daripada menjaga dan
melestarikan harkat dan martabat bangsa ini.