Sabtu, 17 Desember 2011

MAU DIBAWA KEMANA BUDAYA KITA???



Sangatlah kompleks masalah yang ada di Indonesia saat ini, di setor ekonomi kita hanya menjadi pengemis royalti dari para investor asing dan menjadi tukang impor alias anak bawang dalam pasar terbuka. Pada pendidikan, mungkin angka kelulusan sarjana kita berada teratas di asia tenggara, tapi angka pengangguran Indonesia juga berada di peringkat paling atas. Dalam sektor politik, tak diragukan lagi, sudah banyak prestasi yang diraih oleh negara ini terkait dengan KKN yang sudah menjadi budaya politik di negeri ini. Lalu bagaimana dengan “BUDAYA”?,selamat mengarungi selokan makna! .
Budaya yang sejatinya menjadi jatidiri suatu bangsa tak tampak dalam negara ini, budaya yang sejatinya bisa dibanggakan terasa hilang, dan tak berarti lagi. Kenapa bisa seperti ini????
Banyaknya budaya asing yang masuk sebagai dampak globalisasi dan kurangnya minat dari rakyat terhadap budaya nasional mungkin jawaban yang pas atas pertanyaan tersebut. Tapi apakah itu saja???, coba simak kutipan pidato Bung Karno yang satu ini! ‎"capailah satu negara kesatuan republik Indonesia. republik yg kuat berwilayah kekuasaan sabang sampai marauke. capailah kebudayaan sendiri di atas kaki sendiri. di atas kepribadian sendiri-sendiri. Maka itu hey. pemuda-pemuda!! awas-awas!. kalau masih ada sasak-sasakan! kalau masi ada beatle-beatle-an!! kalau masih ada rock and roll. rock and roll-an!! ya seperti kawanmu yang bernama kus bersaudara itu! apa itu? apa tidak punya kita lagu sendiri yang sesuai dengan kepribadian indonesia sendiri? knapa mesti tiru elvis presley. elvis presley-an"betapa pedulinya beliau terhadap pentingnya budaya bagi negara ini, sampai – sampai waktu itu koes plus sebagai band yang di klaim plagiat dengan the beatles, mulai dari aliran musiknya, cara berpakaiannya, dan koreografi saat di panggung harus dipaksa masuk bui atas kelakuannya tak hanya itu satpol pp di kala itu kerap kali menyidak orang - orang yang berpenampilan sedemikian rupa dengan cara langsung memotong rambutnya atau bahkan menjebloskan mereka ke penjara juga.

            Secara kasat mata kebijakan ini cenderung represif, tapi dibalik itu semua terselip tujuan yang sangat mulia, yaitu membentuk karakter bangsa ini, bukan dengan cara mencontoh budaya orang lain dan sebagai plagiator yang sangat membanggakan budaya milik orang lain sedangkan budaya sendiri ia tinggalkan. Dan itu pun diakui oleh koes bersaudara kala itu yang mengakui bahwa yang mereka lakukan adalah salah dan sangat merusak reputasi budaya nasional Indonesia sendiri. Namun ketika Soekarno mundur dan dibarengi dengan bebasnya koes bersaudara kala itu, Soeharto yang baru diangkat langsung mengambil hati rakyatnya dengan menjadikan kebebasan koes bersaudara sebagai maskot kebebasan berekspresi dan berkarya kala itu, mereka di perbolehkan membawa lagu apa saja, mulai dari rock, blues, atau apa saja asalkan tidak ada lirik yang mengkritik pemerintah waktu itu, disini jelas betapa  sang pemimpin yang lebih memilih menjaga reputasinya dari kritikan rakyatnya sendiri daripada menjaga dan melestarikan harkat dan martabat bangsa ini.

Read More..