Hari
ini aku masuk kelas dengan membawa beberapa topik yang sudah menjadi tugas dari
dosenku minggu lalu, salah satunya merupakan topik yang sebelumnya sudah
menjadi pembahasan dalam kelas ideologi politik beberapa waktu lalu, topik itu kuberi
nama “fasisme sebagai strategi konservatisasi dan restorasi politik di
Indonesia”(hah?). Sellow bro, itu merupakan topik nyeleneh saya kok(tidak untuk di implementasikan), yang membuat
nyeleneh adalah terdapat pada salah satu idenya yaitu mendeportasi seluruh
etnis Tiong Hoa yang berada di Indonesia(katanya sih orang Tiong Hoa gampang kalo
mau dinaturalisasi jadi warga negara RRC). Yang dimana itu juga berarti
mendeportasi dosen saya sendiri yang kebetulan juga (sepertinya) merupakan keturunan
Tiong Hoa.
Bukan sekedar nyeleneh atau kurang kerjaan otak saya mengeluarkan ide konyol
seperti itu. Bagi saya, sebuah pemikiran itu timbul tidak sekedar lewat seperti
angin lalu atau secara spontan seperti gerak reflek yang hanya melewati saraf
tulang belakang saja tanpa melalui otak. Bahkan seperti apapun, sekecil apapun,
sejelek apapun, sejorok apapun sebuah ide yang dikeluarkan merupakan sebuah
pemikiran yang melewati proses panjang dalam otak meskipun terkadang tak jarang
orang susah mengungkapkan mengapa bisa timbul sebuah ide semacam itu.
Perlu
diketahui, etnis Tiong Hoa atau biasa disebut orang china ini awalnya datang ke
Indonesia sebagai pedagang. Di saat mereka datang ke Indonesia waktu itu
Indonesia sedang dalam masa penjajahan dan tentunya berjuang melawan itu.
sebagai pedagang, kaum Tiong Hoa tentunya tak memiliki kewajiban untuk melawan
kolonialisme bersama Indonesia disana karena tujuan mereka adalah berdagang
(dan mungkin juga menyebarkan agamanya). Dan tak sedikit dari mereka justru
mengambil keuntungan dari hal ini yang tak segan – segan membantu kaum
kolonialisme mempermudah melakukan imperialisasinya di Indonesia.