Selasa, 22 Mei 2012

Tiong Hoa, Etnis yang dipinggirkan atau meminggirkan?



Hari ini aku masuk kelas dengan membawa beberapa topik yang sudah menjadi tugas dari dosenku minggu lalu, salah satunya merupakan topik yang sebelumnya sudah menjadi pembahasan dalam kelas ideologi politik beberapa waktu lalu, topik itu kuberi nama “fasisme sebagai strategi konservatisasi dan restorasi politik di Indonesia”(hah?). Sellow bro, itu merupakan topik nyeleneh saya kok(tidak untuk di implementasikan), yang membuat nyeleneh adalah terdapat pada salah satu idenya yaitu mendeportasi seluruh etnis Tiong Hoa yang berada di Indonesia(katanya sih orang Tiong Hoa gampang kalo mau dinaturalisasi jadi warga negara RRC). Yang dimana itu juga berarti mendeportasi dosen saya sendiri yang kebetulan juga (sepertinya) merupakan keturunan Tiong Hoa.
            Bukan sekedar nyeleneh atau kurang kerjaan otak saya mengeluarkan ide konyol seperti itu. Bagi saya, sebuah pemikiran itu timbul tidak sekedar lewat seperti angin lalu atau secara spontan seperti gerak reflek yang hanya melewati saraf tulang belakang saja tanpa melalui otak. Bahkan seperti apapun, sekecil apapun, sejelek apapun, sejorok apapun sebuah ide yang dikeluarkan merupakan sebuah pemikiran yang melewati proses panjang dalam otak meskipun terkadang tak jarang orang susah mengungkapkan mengapa bisa timbul sebuah ide semacam itu.
Perlu diketahui, etnis Tiong Hoa atau biasa disebut orang china ini awalnya datang ke Indonesia sebagai pedagang. Di saat mereka datang ke Indonesia waktu itu Indonesia sedang dalam masa penjajahan dan tentunya berjuang melawan itu. sebagai pedagang, kaum Tiong Hoa tentunya tak memiliki kewajiban untuk melawan kolonialisme bersama Indonesia disana karena tujuan mereka adalah berdagang (dan mungkin juga menyebarkan agamanya). Dan tak sedikit dari mereka justru mengambil keuntungan dari hal ini yang tak segan – segan membantu kaum kolonialisme mempermudah melakukan imperialisasinya di Indonesia.

Hal inilah yang membuat saya bingung dan hampir tak percaya ketika mengetahui ada seorang aktivis keturunan Tiong Hoa bernama Soe Hok Gie yang benar – benar berjuang demi  Indonesia. karena sebelumnya saya mengira tak ada orang Tiong Hoa yang berani melawan secara langsung atau bahkan mengangkat senjata demi kepentingan Indonesia. Tetapi setelah mengetahui bahwa banyaknya konspirasi dalam pergerakan mahasiswa pada saat itu yang katanya terdapat campur tangan militer ditambah pergerakan mahasiswa pada saat itu didominasi oleh para mahasiswa pro liberal membuat saya meragukan nasionalisme sosok seorang Soe Hok Gie. perasaan sama terjadi saat saya membaca berita mengenai wali songo yang katanya adalah keturunan Tiong Hoa dan raja terakhir Majapahit merupaka keturunan china. kebenaran tentang hal tersebut patut dipertanyakan, banyak hal dan bukti yang juga meragukan kebenaran sejarah tersebut dan ditambah saat itu banyak masalah yg bersifat Rasis sengaja dimunculkan oleh Pemerintah Belanda untuk mengadudomba dan memecah belah kerukunan kita masa itu.
Yang mengherankan lagi tak jarang pula mereka menuntut ke pemerintah atas tindakan diskriminasi dan marjinalisasi terhadap kaumnya, tapi kenyataannya mereka lebih senang berkumpul dengan sesama etnisnya sendiri dan membentuk komunitas yang lebih sering dikenal dengan pecinan daripada bersama – sama berbaur dengan pribumi. Bahkan saya pernah mendengar ketika melaksanakan upacara agustusan mereka malah lebih senang melaksanakannya dengan sesama etnisnya sendiri.
Banyaknya koruptor – koruptor kelas kakap pun juga menambah rasa benci saya terhadap orang china, sebut saja Anggodo, edi tansil, dan orang2 di bawah ini selain itu bandar narkoba, miras pun banyak didominasi oleh orang china ini.
Dalam tulisan konyol ini (yang tidak mencerminkan tulisan seorang akademisi blas), saya dengan sekuat pikiran saya mencoba menggali lebih dalam dan lebih jauh memori dalam otak ini mulai dari pertemuan pertama saya dengan orang China sampai saat ini guna mencari alasan mengapa saya (lumayan) benci dengan orang “china”.
CERITA I :
            Berawal dari sebuah Sekolah Dasar di daerah pesisir di pulau Madura, saya berkenalan dengan anak yang bernama Hanche yang juga menjadi teman baik saya sampai kelas 4 sebelum saya pindah sekolah. Saya tidak mengerti mengapa dia sering mengajakku bermain kerumahnya sepulang sekolah, dia dan keluarganya memperlakukan saya dengan sangat baik, bahkan tak jarang pula mereka mengajak saya makan siang bersama. Sampai suatu ketika orang tua Hanche bercerita bahwa kakak dari si Hanche dulu pernah dibantu oleh ibu saya, tetapi setelah saya bertanya kepada ibu saya apa yang ia lakukan kepadanya, Ibu saya hanya menjawab membantu saja, tak pernah dijabarkan dengan jelas. Kami dan teman yang lain bermain bersama – sama layaknya anak-anak di masa itu. Tetapi kami berdua memiliki cerita yang sedikit berbeda dengan anak yang lain, masih jelas di ingatan saya saat kami berdua bermain ke pantai yang cukup jauh dari rumah kami sepulang sekolah. Kami berdua berjalan lebih dari 3 km, tentu jarak yang tidak dekat bagi kami anak ingusan yang baru duduk di kelas 3 Sekolah Dasar. Karena pada saat itu kami tidak mengenal yang namanya telepon, tentu saja kami tak memberi kabar terlebih dahulu kepada orang tua kami, kami berjalan dengan seragam merah putih dan tas yang berisi semua buku mata pelajaran dan sebotol minuman dengan gambar ultraman yang terisi setengah. Entah apa yang kami inginkan saat itu, yang jelas, kami ke pantai waktu itu karena kami pulang lebih awal dan saya merasa malas untuk pulang, karena jika saya pulang, paling- paling hanya untuk menemani pembantu saya menonton film India atau sekedar bermain video game Mario bross yang sudah saya tamatkan berkali – kali. Saya mengajaknya karena tak ada teman lagi yang mau untuk saya ajak pergi..
            Tak terasa adzan Ashar sudah sejam berlalu, seharusnya aku sudah berada di kelas Madrasahku waktu itu, tapi aku baru saja sampai di pantai yang kami tuju. tentu saja waktu itu kami tidak berpikir akan sampai sesore ini, bahkan untuk bolos madrasahpun saya tidak habis pikir. Seketika pikiran ini menjadi kabur, kesenangan yang diharapkan seolah lenyap dengan sekejap setelah kekhawatiran takut dimarahi orang tua masuk dalam otak. Tanpa pikir panjang, kami kembali pulang, di tengah perjalanan kami bertemu dengan orang tua Hanche yang terlihat sangat cemas dan bingung, ia pun langsung dibawa Ibunya pulang dan menyuruh saya untuk segera pulang.       
            Sampai dirumah, pintu saya terkunci rapat, udarapun tak dapat masuk melalui jendela rumah saya. Tak ada orang di rumah saya. Saya hanya bisa duduk di teras depan rumah saya menunggu orang tua saya kembali, tak seberapa lama kemudian tetangga melihat saya dan menanyakan kemana saja saya hari ini?, ia juga bilang bahwa orang tua saya mencari saya sejak sore tadi. Saya pun diajak kerumahya dan langsung disuguhkan makanan. Saya sangat beruntung mempunyai tetangga sekaligus guru ngaji sebaik dan seperhatian dia terhadap anak senakal saya waktu itu­, dia juga orang yang selalu membujuk saya agar tidak malas madrasah. (semoga beliau damai di rumah keabadiannya disana).
            Adzan Isya’ telah berkumandang, orang tuaku baru saja datang.. tanpa pikir panjang saya langsung pulang, belum sempat bercerita dan mengutarakan perkataan maaf saya, badan saya langsung di sambut dengan sapu lidi tipis berkali-kali. Meskipun begitu, perasaan cemas dan takut kehilangan saya di wajah mereka tak dapat tertutupi oleh amarah mereka waktu itu .tapi ini merupakan cerita masa kecil saya yang sangat berkesan, karena saya benar-benar belum pernah melihat orang tua saya secemas dan semarah ini pada saya. Namun, apa yang terjadi dengan Hanche dan orang tuanya pada saat itu?(Mengapa pertanyaaan ini baru muncul setelah 10 tahun ya?)
            Cerita diatas bukanlah apa yang ingin saya paparkan pada orang yang membaca tulisan ini(kalo ada), yang sebenarnya saya ingin ceritakan adalah, mengapa orang tuanya baik sekali terhadap saya?, dan ketika ada anak lain yang bermain kerumahnya, ia tidak dilayani sebaik ia melayani saya. Bahkan teman saya yang sekaligus tetangganya juga malah tidak akrab dengannya. Ia menceritakan hal yang justru bertolak belakang dengan apa yang saya rasakan saat disana. Disinilah saya mulai berpikir bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah semata-mata membalas apa yang telah dilakukan orang tua saya terhadap kakak Hanche, andai saja hal itu tidak terjadi, mungkin saya tidak akan pernah sedekat itu dengan mereka.
CERITA II
            Saat itu saya baru pindah kerumah bude saya,sembari menunggu rumah orang tua saya yang sedang dibangun dekat rumah bude saya, orang tua saya memutuskan untuk memindahkan sekolah saya lebih dahulu, agar lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Saya tinggal bersama bude saya sekitar 1 caturwulan saja sebelum keluarga kami menempati rumah yang masih setengah jadi dan meninggalkan kontrakan penuh kenangan di desa jalauk kecamatan Sepulu. Lagi-lagi orang pertama yang menjadi teman saya saat itu juga adalah seorang Tiong Hoa. Andi namanya, dia tiga tahun lebih tua dari saya. Layaknya anak-anak lain kami berteman seperti biasa, kami tidak begitu dekat sedekat saya dengan Hanche dulu. Tapi ia sanagt dekat dengan keluarga bude saya, bahkan saat rekreasi,jalan-jalan dan untuk membeli kebutuhan pokok keluarga bude sayapun ia sering diajak bersama kami. Bagi saya itu wajar-wajar saja, karena memang seperti itulah harusnya menjadi tetangga(harus akrab). Tapi yang aneh  adalah meskipun rumah si Andi dan Bude saya sangat dekat, tapi saya jarang melihat kedua orang tuanya keluar dan bersosialisasi dengan tetangga lainnya, bahkan pada acara kerja baktipun saya tidak pernah melihatnya(sampai sekarang).
            Saya naik kelas 4, dan ia masuk SMP, ia memilih SMPK yang berada di Kabupaten. Sejak saat itulah kami jarang bertemu dan mulai saat itu pula saya menempati rumah orang tua saya sendiri yang berjarak satu gang dengan rumah bude saya. Setiap hari saya dan teman-teman sekomplek bermain dan berkumpul, namun saya hampir tidak pernah melihat batang hidungnya sama sekali, saya memiliki banyak teman disana, tapi diantara banyak teman yang saya dapat, sangat sedikit yang dekat dengan Andi. Saya sering mengajaknya bermain bola atau bermain apa saja bersama teman-teman yang lain tapi ia selalu menolak dengan alasan dilarang oleh orang tuanya. Sampai saya bosan mengajaknya dan tidak pernah berkomunikasi dengannya lagi.

CERITA 3
            Cerita ini terjadi ketika saya sudah SMA, saya bertemu seorang Tiong Hoa yang bekerja di sebuah layanan fotocopy, hari itu pertama kalinya saya ketempat tersebut. Tapi entah apakah  karena pikiran saya yang membuat sang pelayan memperlakukan saya seperti apa yang saya pikirkan(yang menganggap orang china &#^!*&!*$), percaya tidak percaya hal itu benar-benar terjadi. Awalnya saya mencoba memasang wajah ramah kepadanya, tapi dia merespon sangat jauh dengan apa yang saya berikan,dia melayani saya dengan tidak ramah(mungkin ini tidak hanya terjadi pada saya saja) yang membuat tempat ini tidak dapat bertahan lama(sekarang tempatnya sudah berubah menjadi toko kecil dan sudah bukan ditempati oleh orang china lagi). Yang sangat menyebalkan adalah ketika saya meminta tolong untuk memotongkan bagian fotocopy yang hitam dan tidak perlu sang pelayan justru mengumpat lirih dan memasang wajah aneh dihadapanku, seketika saya langsung  menjawabnya  dengan nada yang lumayan tinggi “ Tenang aja pak, saya bayar bayar ntar uang buat ongkos motongnya”. Bapak - bapak disampingku tersenyum mendengar perkataan saya, tapi entah sang pelayan mendengarnya atau tidak(saya sangat yakin dia mendengar) tapi ia tak memberi respon kepada saya. Seperti biasa, saya pulang dengan kembalian 3 permen di tangan saya waktu itu.
Cerita 4
            Kejadian ini menimpa teman saya, saat itu teman saya hendak membeli nasi goreng di depan sebuah toko bangunan yang sedang tutup. Melihat ada tempat kosong lantas ia memarkir sepeda motornya dekat toko tersebut. karena ia membelinya di pedagang kaki lima dan kebetulan tempat yang disediakan untuk makan di tempat sudah penuh, teman saya memutuskan untuk makan di depan toko yang sedang tutup itu. Tapi tak berapa lama ia duduk disana, pemilik toko itu keluar dan mengusirnya dari depan toko tersebut. Dan tentunya orang yang mengusirnya tidak lain dan tidak bukan adalah seorang Tiong Hoa.

            Mungkin cerita diatas adalah sedikit cerita menyedihkan dan menyebalkan saya dengan orang china, dan perlu diperhatikan lagi perlakuan dan tindakan orang china yang saya paparkan bukan berarti menuduh bahwa semua orang china adalah seperti itu(mungkin dari semua orang china yang saya temui 85% seperti diatas J) . sisanya adalah orang – orang yang saya kenal layaknya teman – teman pribumi saya lainnya dan ada pula yang justru sangat kontradiktif dengan apa yang saya pikirkan diatas. Seperti putri teman saya di kelompok 69, kebaikannya dapat dibaca di tulisan saya sebelumnya yang berjudul “69 corner”. Dosen saya yang justru terlihat sangat welcome dengan teman – teman saya, teman sekelas saya Richard dan banyak lagi.
            Hampir lupa…. Perlu diketahui juga setelah saya berbincang dengan Richard(teman sekelas saya) ternyata pada saat pemerintahan orde baru diskriminasi yang dilakukan pemerintah memang benar adanya. salah satunya ketika mencetak akte kelahiran yang masih mencantumkan WNI keturunan. Selain itu, segala urusan yang berbau instansi publik cenderung susah untuk di jangkau malahan cenderung dipersulit jika yang bersangkutan adalah orang Tiong Hoa. Mungkin inilah yang membuat mereka merasa di anak tirikan, serta anggapan dan paradigma para pribumi yang semulanya menganggap mereka adalah pengkhianat bangsa mebuat tekanan yang mereka rasakan semakin menyesakkan kehidupannya.
            Tapi apapun alasannya, membenci sesuatu tanpa kita belum memahaminya adalah kesalahan yang amat besar. Begitu pula ketika kita bertemu dengan orang china, kita sebagai pribumi juga harusnya membuka pintu dan melapangkan dada lebih lebar kepada mereka bukannya menjauhi ataupun melakukan tindakan yang represif terhadap mereka. Selain dapat menjadi boomerang bagi Kesatuan Indonesia, hal itu juga bisa membuat mereka tak segan – segan menjajah negara mereka sendiri dengan melakukan korupsi, bisnis tak sehat hanya demi kepentingan mereka sendiri seperti apa yang sudah – sudah(tapi jujur saya masih trauma saya nih orang).

          Apapun alasannya, BERSATU KITA TEGUH BERCERAI KITA RUNTUH. Saya tidak bisa dapat menyimpulkan tulisan konyol yang sudah saya buat diatas. Tapi mungkin pembaca(kalo ada) bisa menilai sendiri. apakah Tiong Hoa merupakan etnis yang perlu diusir karena menjadi penyakit negri ini, ataupun etnis yang harus mendapatkan perhatian lebih dari pribumi?
KALO SAYA PILIH YANG KEDUA :)

2 komentar:

  1. Apik cerita masa kecmu. Hehe
    setuju sama yg kamu tulis. Kita harus welcome sama mereka .
    Btw kuliah mu seru ya sepertinya

    BalasHapus