Begitu kumendapatkan sms kalau si
putri sudah berada di gerbang suhat malam itu, seharusnya aku
langsung pergi saat itu, aku bisa membayangkannya betapa bosannya dia
berada disana sendirian?
Aku lupa kalau dia adalah orang yang
paling rajin di 69, dimana saat kerja kelompok, dialah yang selalu
datang duluan, tidak pernah mengatakan “tidak” jika dimintai
tolong, aku sering berpikir bahwa sharusnya dialah yang paling cocok
menjadi ketua di kelompok kami saat itu.
Seharusnya aku sms kepadanya
sebelumnya,“ put, sorry, ntar datangnya telat aja,, aku yakin si
kak miyabi pasti lebih telat.” Sambil menghabiskan setengah gelas
teh hangat di sebuah warung kecil tempat dmana biasanya kuhabiskan
waktu makan malamku, lalu langsung pergi ke kosan Nuris, anak rantau
dari banjar yang mungkin paling tidak senang berada di bawah
kepimpinanku saat di 69 kala ospek lalu, meskipun dia selalu mencoba
tidak membenarkan hal itu ketika berhadapan denganku, aku tak tahu
alasan apa mengapa dia seperti itu??,tapi itu mungkin juga salah
karena itu juga hanyalah sebatas alibiku saja. Adzan Isya’ telah
berkumandang,, dan sekali lagi handphoneku bergetar ada pesan masuk
yang isinya membenarkan sekali lagi kalau si putri benar2 dalam
keadaan bosan menunggu disana.