Begitu kumendapatkan sms kalau si
putri sudah berada di gerbang suhat malam itu, seharusnya aku
langsung pergi saat itu, aku bisa membayangkannya betapa bosannya dia
berada disana sendirian?
Aku lupa kalau dia adalah orang yang
paling rajin di 69, dimana saat kerja kelompok, dialah yang selalu
datang duluan, tidak pernah mengatakan “tidak” jika dimintai
tolong, aku sering berpikir bahwa sharusnya dialah yang paling cocok
menjadi ketua di kelompok kami saat itu.
Seharusnya aku sms kepadanya
sebelumnya,“ put, sorry, ntar datangnya telat aja,, aku yakin si
kak miyabi pasti lebih telat.” Sambil menghabiskan setengah gelas
teh hangat di sebuah warung kecil tempat dmana biasanya kuhabiskan
waktu makan malamku, lalu langsung pergi ke kosan Nuris, anak rantau
dari banjar yang mungkin paling tidak senang berada di bawah
kepimpinanku saat di 69 kala ospek lalu, meskipun dia selalu mencoba
tidak membenarkan hal itu ketika berhadapan denganku, aku tak tahu
alasan apa mengapa dia seperti itu??,tapi itu mungkin juga salah
karena itu juga hanyalah sebatas alibiku saja. Adzan Isya’ telah
berkumandang,, dan sekali lagi handphoneku bergetar ada pesan masuk
yang isinya membenarkan sekali lagi kalau si putri benar2 dalam
keadaan bosan menunggu disana.
Tanpa pikir panjang kubalas pesannya
dengan singkat “Jd”, lalu membiarkan handphoneku berada dalam tas
dan kutinggalkan sholat. Usai sholat kulihat jarum panjang menunjuk
angka 3, meurut standar kebosanan yang normal, mungkin si putri sudah
melampaui tingkat kebosanan,masuk ke stratosfer yang langka oksigen
menuju kehampaan. Mesin motor Nuris pun sudah dinyalakan sembari
membaca sms dari Arif yang memberitahukan kalau dia sudah berada di
tempat kejadian perkara. Kami pun berangkat, terlihat dari jauh cewek
menggunakan jaket hitam menunduk sendirian yang tampak gelisah ,
tanpa piker panjang aku langsung turun dari boncengan Nuris lalu
mendatanginya padahal aku belum tau kalau di adalah cewek yang
kumaksud, “permisi” sapaku, dia menatapku dan membalas “silahkan”
dengan senyum tanpa arti, lantas akupun lanjut jalan dan berpikir
untung aku tak menyapa dengan menyebut namanya, tak jauh dri tempat
itu terihat serius seorang cewek membaca manga brada di depan
ku_ kira2 10 meter di depanku, dan ternyata memang benar dialah si
putri, ia langsung kusapa “sorry, dah lama
ya?”, “Iya, dari 10 menit sebelum aku sms kamu malah” jawabnya
dengan senyum ikhlas tanpa sinis sedikitpun, dan itu cukup menegaskan
kalau dia memang anak yang sabar.
Tak lama kemudian hanphoneku bergetar
lagi, kali ini Arif menelpon dan memberi aba2 kalau dia berada di
arah 60® dari hadapanku. Segera dia menuju kami dengan motor
maticnya dan sebatang rokok mild yang tinggal separuh di tangan
kirinya, sama denganku dia masuk FISIP dengan kecelakaan tapi bedanya
dia masih bisa dapat menerima dan lebih nyantai menanggapi itu, beda
dengan saya yang masih selalu dihantui rasa menyesal. Dia adalah
anggota paling kocak di kelompok kami, paling nyantai tapi paling
rajin saat mengerjakan tugas, dan satu lagi, mungkin dia juga lelaki
yang hormon testosterone paling banyak di kelompok kami, benar,
setiap bertemu dia pasti ada saja pembicaraan yang berbau mesum.
Malam semakin dingin, bau parfumku juga
sudah hilang termakan bau badanku yang dari siang tadi belum sempat
ku membersihkannya(mandi), tiba si yulia, teman kami satu lagi yang
paling diam, tidak banyak bicara dan jarang kerja kelmpok, tapi juga
berkontribusi besar terhadap kelompok kami.
Sudah lebih 20 menit kami bersama,
orang yang ditunggupun datang juga, kak miyabi datang bersama lelaki
dengan kaos putih bertuliskan“ I LOVE MIYABI”(mungkin itu alasan
kenapa aku menggunakan nama miyabi untuk kakak fasilku yang satu ini
) yang tidak lain adalah pacarnya yang katanya baru datang dari rusia
dalam rangka pertukaran pelajar, zack namanya, aq sudah mengira dari
namanya kalau dia adalah seorang musisi, benar – dia seorang
drummer berbakat di sebuah band indie di Malang yang cukup terkenal.
Lalu dia menghampiriku dan menyalami kami satu persatu, dengan
memberikan senyuman kurang enak badannya.
Tidak banyak yang saya ketahui tentang
kak miyabi, hanya saja yang selalu kami ingat saat pertama kali
bertemu dengannya dia mengucapkan kata2 yang mudah diingat oleh kami
“69, kelompok paling gaul, kece dan stylepaling PW “ mungkin
perkataannya itu juga mudah dipahami dan menimbulkan persepsi yang
baik kepada kak miyabi ini. Tanpa basa – basi kami pun langsung ke
TKP, tempat nongkrong yang msih tidak lebih baik daripada tempat
tongkronganku di Madura sana, meskipun begitu, suasana disana juga
mengingatkanku di saat2 SMA, dimana saat setiap malam pulang dari les
fisika, kami melakukan hal yang sama, berbagi mimpi, bercanda,
bermain domino, dan saling ejek – mengejek, dengan di iringi alunan
lagu Bondan yang selalu menjadi request lagu wajib kami disana. Hal
yang benar – benar sangat - sangat sulit aku lupakan.
Jika, dulu kami sewaktu SMA biasa
membicarakan hal hal yang tidak penting dan lebih banyak berguraunya,
sekarang kami diajak oleh kak Miyabi untuk menjadi seorang
intelektual muda, yang tidak hanya nongkrong yang menghabiskan waktu
dan uang sakunya saja. Tidak hanya menjadi kakak fasil yang baik,
ternyata dia juga seorang penengah yang baik pula, meskipun tak
sebaik karni Ilyas , yang membuat pembicaraan kami waktu itu berjalan
cukup menarik. Setengah gelas susu coklat sudah masuk ke
tenggorokanku, dan akhirnya si Ian dan si titik yang berjanji akan
menyusul datang juga, keduanya sama2 mahasiswa psikologi.
Kehadirannya saat itu juga tidak merubah topic yang kita bicarakan,
karna aku sadar acara semalam juga tidak jauh beda dengan acara “satu
jam bersama tokoh” sebuah acara Talk show di TV one yang sudah
punah,Dimana yang menjadi bintang tamunya adalah kak Miyabi dan
anehnya yang menjadi “grace natalinya” juga kak Miyabi.
Memang luar biasa nih kakak Miyabi.
Malam makin larut, udara semakin
dingin, di meja juga hanya tersisa satu porsi mie jumbo pesanan kak
miyabi yang hanya dimakan tidak lebih dari setengahnya, waktunya kami
pulang, sungguh malam yang luar biasa dapat bertemu kembali dengan
teman2 calon pemimpin bangsa yang super ini. Sesampainya di
kontrakan, terlihat sepi, sepertinya semuanya sudah tidur, kuucapkan
salam tak ada yang menjawab, kubuka pagar dan masuk ke kamar sembari
merebahkan badan ke tempat tidur, terdengar dari kamar sebelah
suara kunci hendak dibuka, dan hentakan kaki meuju kamar, “ dek,
endi oleh2 e??” sembari membuka pintu kamarku, “ g onok mas,
dompet serret!!!” Jawabku sinis. – dialah kakak kos yang gateli
yang setiap kali jika aku melihat wajahnya aku selalu berharap andai
saja Allah tidak menciptakan neraka dan pemerintah tak membuat UU,
mungkin dialah orang yang paling ingin aku mutilasi duluan, kami maba
di kontrakan sepakat menjulukinya dengan sebutan “Kumbokarno”
seorang tokoh pewayangan jawa yang berawakan gendut, rakus dan
gateli, persis sama seperti kakak kos kami yang satu ini.
Melihat aku kurang mood terhadapnya,
si gateli ini langsung pamit kembali kamarnya, kulihat lagi jadwal
sepakbola malam ini, tak ada pertandingan yang menarik hari ini, yang
bsa membuatku berjalan 7 langkah menuju warkop untuk menghabiskan
kopi seharga 2500 dan duduk selama 2 jam disana. Kupejamkan kedua
mataku sembari melafalkan doa sebelum tidur, saat arwahku hendak
menuju fase Beta terasa lirih ada sesuatu yang bergetar di kantongku,
kupendamkan tangan kiriku dan mengambil handphone, ada dua pesan
masuk saat itu, pesan dari kak Miyabi mengenai tindak lanjut dan
ucapan trima kasih atas partisipasi dari acara tadi, dan satu lag
isms dri IBUku yang menanyakan “ Mas, besok jadi pulang jam
berapa?”, spontan aku langsung membalas, “sebisaku bu, InsyaALLAH
pagi bu.” Aku hampir lupa kalau aku besok akan pulang ke Madura.
Segera aku pejamkan mataku,perasaan ini langsung tak sabar untuk
menanti datangnya hari esok, tak sabar segera bertemu keluarga disana………..
akakkaak .. yogooo" .. onok" wae.. ininsial e iku looh .. wkwkkw .. ^w^ jd tersanjungg sayaa .. :p
BalasHapushehe... cuma mencoba menulis pake bahasa baku aja cuy,,, sedikit di dramatisir tuh.. hehehe..
BalasHapus