Rabu, 29 Maret 2017

Menggapai Sukma Firdaus dalam Muslim Seutuhnya ; Implementasi Surat Al Ashr dalam Menghadapi Tantangan Zaman


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.– (QS.2:208)
            Sangatlah mudah mencermati ayat diatas, Insya Allah kita semua paham maksud dari ayat tersebut bahwa dalam menjalani kehidupan sebagai umat islam tidak boleh setengah-setengah dan harus secara total, yang dalam ayat tersebut dikatakan masuk ke dalam islam secara kaffah atau secara keseluruhan. Dimana secara keseluruhan yang dimaksud adalah islam yang mencakup segala aspek, mulai dari yang berkaitan dengan iman, akhlak, ibadah, muamalah bahkan yang berkaitan dalam urusan pribadi,berumah tangga, bermasyarakat maupun bernegara.
            Tentu pemandangan islam secara kaffah yang pernah diamalkan oleh Rasul dan sahabatnya ini menjadi sesuatu yang langka dan cenderung utopis untuk kita temukan dalam generasi saat ini yang sedang dalam ambang dekadensi akhlak, kemerosotan aqidah dankrisismoralyang jelas menunjukkan bahwa banyak dari kita tanpa disadari telah mengikuti langkah-langkah syaitan seperti yang tertulis dalam ayat diatas. Lebih dari itu,mungkin ada diantara kita bahkan telah lalim dan menyamai prestasi iblissebagai makhluk yang hanya sekedar mengakui adanya Allah namun tidak mau tunduk dengan apa yang di syariatkanNya.
            Tak dapat dipungkiri bahwa zaman yang kita hadapi saat ini lebih berat dari tantangan umat muslim pada zaman nabi terdahulu, khususnya dalam hal keislaman. Dimana bisikan-bisikan syetan di zaman ini mampu tersamarkan oleh kecanggihan teknologi dan informasi yang mampu merambat melalui segala penjuru mulai dari televisi, media massa, ataupun internet. Dekadensi dan degradasi akhlak serta aqidahpun secara bebas dapat tampil dalam selimut ilmu pengetahuan yang menggiurkan namun menyesatkan.
            Di tengah tantangan yang begitu berat yang telah penulis paparkan diatas, lantas dimanakah posisi kita saat ini seharusnya?, cukupkah dengan menjadi muslim saja-yang hanya memenuhi lima rukun islam dan enam rukun iman kita mampu membendung arus kemerosotan zaman ini dan lolos dari gilasannya? Bersandar dari pertanyaan-pertanyaan tersebut essay ini juga akan berusaha untuk menjawab  muslim yang ideal dalam menghadapi tantangan-tantangan dalam kemerosotan zaman ini.

Memeluk Islam Saja Tidak Cukup
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertaqkwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati, melainkan dalam keadaan beragama Islam.– (QS.3:102)
            Itulah ayat yang selalu diingatkan oleh setiap khotib dalam setiap shalat jumat agar kita selalu benar-benar bertakwa dan jangan sekali-kali mati dalam keadaan selain islam. Dengan kata lain ayat tersebut mengingatkan kepada kita agar senantiasa bertakwa dan menjaga iman kita sampai di penghujung hayat kita.
 Kedua hal ini wajib kita implementasikan dalam kehidupan kita sebagai muslim, namun pertanyaan lain yang muncul adalah apakah kedua hal ini sudah cukup untuk membendung arus zaman yang begitu deras, membebaskan saudara-saudara kita yang tertindas dan mewujudkan islam secara kaffah sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam ? jawabannya tentu tidak cukup bahkan mungkin jauh dari cukup. Oleh karena itu Allah mengingatkan kepada kita dengan teguran bahwa merugilah kita bila hanya mengandalkan iman dan takwa saja sebagaimana tercantum dalam surat Al Ashr berikut :
           
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa.Sesungguhnyamanusiaitubenar-benardalamkerugian, kecuali orang-orang yang berimandanmengerjakanamalsalehdannasehatmenasehatisupayamentaatikebenarandannasehatmenasehatisupayamenetapikesabaran.”
 (QS. Al ‘Ashr: 1-3)
            Jika kita renungkan lebih dalam lagi akan kita temukan betapa dahsyatnya surat ini. bahkan imam syafii rahimahullah pernah berkata berkaitan dengan surat ini,
هذه السورة لو ما أنزل الله حجة على خلقه إلا هي لكفتهم
“Seandainya Allah menjadikansuratinisebagaihujjahpadahamba-Nya, makaitusudahmencukupimereka.”[1]
            Beliau menggambarkan bahwa surat ini merupakan alasan atau tanda bukti yang cukup untuk mendorong kita agar tetap berpegang teguh kepada agama Allah SWT. Cukup dalam hal ini bukan berarti cukup dalam mencakup segala syariatNya melainkan cukup untuk menghindarkan kita dari golongan-golongan orang yang merugi dan senantiasa mendorong kita untuk menghiasi diri ini dengan keempat sifat-sifat yang tertulis dalam surat tersebut.
            Dalam tafsir yang lain Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa surat ini merupakan acuan untuk menyempurnakan manusia dimana dua hal yang pertama (iman dan amal sholeh) untuk menyempurnakan diri kita sendiri. Sedangkan dua hal berikutnya untuk menyempurnakan orang lain yang mana dapat menyelamatkan kita dari kerugian dan memberikan kita keberuntungan yang besar.”[2]
            Dari surat dan tafsir yang telah dipaparkan diatas maka jelaslah bahwa menjadi islam saja tidaklah cukup untuk membendung gerusan zaman kemerosotan ini  , bahkan Dr. Zakir Naik dalam ceramahnya mengatakan bahwa keempat poin diatas merupakan syarat wajib yang harus dimiliki muslim untuk masuk surga, jadi apabila ada seorang muslim yang telah menunaikan rukun islam secara sempurna namun  dia tidak berdakwah di jalan Allah maka apabila kita merujuk pada surat Al-Ashr maka muslim tersebut tidak bisa masuk surga. Kecuali jika Allah mengampuni muslim tersebut dan memasukkannya kedalam surga meskipun tidak berdakwah maka itu hak prerogatif Allah karena satu-satunya dosa yang tak dapat diampuni Allah hanyalah syirik.
            Bersandar dari hal-hal diatas maka keempat amalan yang Allah peringatkan bahkan melalui sumpahnya di awal ayat ini seyogyanya mampu membuat kita terdorong untuk senantiasa mengamalkannya guna membendung zaman yang telah jauh dari nilai-nilai islamidan mengutamakan kepuasan duniawi semata. 
Beriman dan Beramal Saleh  
            Begitu banyak sekali ayat dalam Al Quran  yang meletakkan kedua hal ini secara berdampingan. Bahkan hampir dalam semua ayat tersebut Allah SWT menjanjikan kepada golongan orang-orang yang beriman dan beramal saleh ini pahala yang begitu besar dan tempat yang mulia. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa selain beriman, guna mendapatkan ridha Allah SWT, kita juga harus beramal saleh. Dengan kata lain, kedua hal ini harus kita amalkan secara selaras. Tidak bisa beriman saja atau beramal saja tanpa beriman.
            Iman yangpada dasarnya merupakan pondasi dari islam dan amal, merupakan modal utama bagi kita agar tidak tergilas zaman yang menonjolkan kepuasan terhadap materiserta mengenyampingkan akhlak dan aqidah ini. Maka tidaklah mengherankan apabila saat ini muncul istilah-istilah islam KTP, islam turunan, dan lainnya yang menggambarkan bahwa islam saat ini tidak lebih hanya sekedar identitas saja. Padahal sesungguhnya di dalam ajaran islam, iman itu tidak dinyatakan dengan lisan dan diyakini dengan hati, melainkan harus diamalkan dengan perbuatan-perbuatan nyata, sebagai amal-amal pribadi maupun amal-amal kemasyarakatan.
            Dan alasan dibalik munculnya istilah-istilah islam yang menjadikannya tidak lebih dari identitas semata tidak lain merupakan akibat dari mulai lunturnya pondasi islam pada jatidiri umat muslim saat ini. Bahkan di abad dimana kemajuan banyak diukur oleh taraf teknologi dan pemenuhan materi ada pendapat yang menganggapbahwa pemikiran-pemikiran dan perbuatan-perbuatan kita sehari-hari dalam mengejar kemajuan dan pembangunan didasari akhlak agama merupakan suatu penghambat kemajuan.
            Dan disinilah tugas kita untuk mematahkan anggapan tersebut, kita harus membuktikan bahwa iman dan ilmu pengetahuan yang merupakan perwujudan dari amal kita, yang termasuk dalam tiga bekal amal  yang tak terputus saat kita mati nanti, adalah kunci untuk membangun peradaban yang bermartabat dimana kedua hal ini dapat berintegrasi dengan harmonis serta menjadi jawaban atas kemerosotan moral saat ini.
            Dengan ilmu pengetahuan kita mampu membuat senjata yang sangat canggih,memahami masalah politik,sosial maupun ekonomi, namun, tanpa didasari iman yang kuat, senjata tersebut bisa digunakan untuk membunuh orang yang tidak berdosa, dan ilmu-ilmu yang lainnya hanya digunakan untuk kepentingan pribadi,korupsi, membohongi rakyat dan sebagainya. Ringkasnya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh buya hamka bahwa iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi namun ilmu tanpa iman bagaikan lentera di tangan pencuri.
Maka jelaslah bahwa kita saat ini sedangdituntut untuk terus belajar dan belajar serta mapu menginterpretasikan bidang keahlian kita masing-masing melalui sudut pandang islam serta menonjolkan akhlak kita yang luhur dan budi yang halus kepada dunia melalui dakwah karena hanya dengan adanya integrasi total dalam setiap pribadi umat muslim barulah dapat dicapai kemajuan suatu umat.
Berdakwah dan Bersabar
عن ابن عمر ، أن رجلا جاء إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فقال : يا رسول الله أي الناس أحب إلى الله ؟ وأي الأعمال أحب إلى الله عز وجل ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « أحب الناس إلى الله أنفعهم للناس ، وأحب الأعمال إلى الله سرور تدخله على مسلم ، أو تكشف عنه كربة ، أو تقضي عنه دينا ، أو تطرد عنه جوعا ، ولأن أمشي مع أخ لي في حاجة أحب إلي من أن أعتكف في هذا المسجد ، يعني مسجد المدينة ، شهرا ، ومن كف غضبه ستر الله عورته ، ومن كظم غيظه ، ولو شاء أن يمضيه أمضاه ، ملأ الله عز وجل قلبه أمنا يوم القيامة ، ومن مشى مع أخيه في حاجة حتى أثبتها له أثبت الله عز وجل قدمه على الصراط يوم تزل فيه الأقدام»
Dari Ibnu Umar bahwaseoranglelakimendatangiRasulullahShallallahualaihiwassalamdanberkata,”WahaiRasulullah, siapakah orang yang paling diicintaiAllah ?danamalapakah yang paling dicintai Allah swt?” RasulullahShallallahualaihiwassalammenjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaatbuatmanusiadanamal yang paling dicintai Allah adalahkebahagiaan yang engkaumasukkankedalamdiriseorangmuslimatauengkaumenghilangkansuatukesulitanatauengkaumelunasiutangataumenghilangkankelaparan. Dan sesungguhnyaakuberjalanbersamaseorangsaudarakuuntuk (menuaikan) suatukebutuhanlebihakusukaidaripadaakuberitikaf di masjid ini—yaitu Masjid Madinah—selamasatubulan. Dan barangsiapa yang menghentikanamarahnyamaka Allah akanmenutupikekurangannyadanbarangsiapamenahanamarahnyapadahaldirinyasanggupuntukmelakukannyamaka Allah akanmemenuhihatinyadenganharapanpadaharikiamat. Dan barangsiapa yang berjalanbersamasaudaranyauntuk (menunaikan) suatukeperluansehinggatertunaikan (keperluan) itumaka Allah akanmeneguhkankakinyapadaharitidakbergemingnya kaki-kaki (hariperhitungan).” (HR. Thabrani)[3]
            Dari hadist diatas dapat kita cermati bahwa berdakwah di jalan Allah diatas ilmu dan hikmah merupakan suatu amalan yang mulia dan sangat dicintai oleh Allah karena sejatinya tidaklah cukup seseorang itu berilmu dan beramal shaleh dan hanya memperbaiki dirinya sendiri,akan tetapi seharusnya ia juga berupaya untuk memperbaiki orang lain,agar dirinya menjadi mukmin yang hakiki sebagaimana sabda Rasul
لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“ Tidaklahberimansalahseorang kalian sampaiiamencintaisaudaranyasepertimencintaidirinyasendiri.” ( HR. Bukharidan Muslim ) .
            Dan dakwah yang harus kita lakukan dalam era modern saat ini dimana sains dan teknologi menjadi tolak ukur suatu kemajuan kita harus mampu membuktikan bahwa islam beserta sains dan teknologi mampu berintegrasi secara harmonis dengan melakukan ekspansi para ilmuan muslim dalam bidangnya masing-masing danmenjadikan dua hal tersebut sebagai bahan bakar dalam melakukan pembinaan jiwa bangsa dan jiwa pembangunan negara sehingga diharapkan akan muncul ahli-ahli ekonomi, politik, dan teknologi yang bermartabat yang mampu menginterpretasikan bidang tersebut melalui sudut pandang islam.
            Di sisi lain dakwah secara konvesionalpun harus tetap kita laksanakan secara progresif. Di tengah globalisasi media dan kemajuan teknologi ini seharusnya juga kita mampu memaknainya bukan hanya sebagai masalah namun juga menjadi peluang dalam berdakwah. Dengan tersedianya media yang memberikan kita kemudahan dalam mengakses dan membagi informasi dengan mudahnya kita seharusnya mampu mengambil peluang tersebut untuk memperluas dakwahnya secara global melalui aplikasi-aplikasi ataupun website dakwah.
            Merujuk pada hadist riwayat thabrani diatas dan peringatan dari ayat terakhir dari surat Al Ashr, apabila  disaat kita melakukan dakwah di jalan Allah SWT kita temui cobaan dan ujian berat yang menghalangi kita, maka Allah menganjurkan kita untuk senantiasa saling nasehat-menasehati untuk senantiasa bersabar karena semua kebaikan yang kita lakukan pasti akan ada balasannya.
Penutup
Sebagaimana yang telah diabahas dari awal pendahuluan essay ini, bahwa kita telah diperintahkan oleh Allah SWT untuk masuk islam secara kaffah, yang mana penulis beranggapan bahwa peringatan Allah dalam surat Al Ashr merupakan jawaban bagi kita untuk menjadi muslim yang sejati. Di sisi lain, surat ini juga mendorong dan mengingatkan kepada kita bahwa guna mencapai surga atau kehidupan akhirat kita tidak perlu melupakan kehidupan dunia. justru sebaliknya, kita dituntut untuk mampu menghiasi segala aktivitas dan memberikan kontribusi dalam bidang kita masing-masing berlandaskan dengan iman dan islam.
Dengan menjadikan empat poin dalam surat Al Ashr yaitu beriman, beramal saleh, memberi nasihat kepada yang haq (berdakwah dan berjihad) serta mengingatkan kepada sesama untuk bersabar sebagai dasar kita berpegang teguh kepada agama Allah maka Insha Allah sebuah peradaban yang bermartabat yang mengamalkan islam secara kaffah dan generasi emas yang berjiwa penghuni surga adalah suatu keniscayaan yang akan muncul kembali .
DAFTAR PUSTAKA

Amidjaja, Tisna. 1992. Iman, Ilmu, dan Amal. Rajawali : Jakarta.
Sujana. 2007. Mengislamkan Orang Islam. PADMA Press : Surabaya.




[1]Dikutip olehSyaikh Muhammad At Tamimi dalam Kitab Tsalatsatul Ushul
[2] Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di,Tafsir Al Karimir Rahman fii Tafsir Kalamil Mannan, (Muassasah Ar Risalahtahun;1423 H) hal 934
[3] Hadits ini dihasankan oleh Syeikh al Albani didalam kitab “at Targhib wa at Tarhib” (2623)

0 komentar:

Posting Komentar