Sudah hampir habis
rasanya gairah membicarakan nasib bangsa
ini kedepan, ekspektasi bangsa yang besar di tahun lalu kini semakin hari
semakin pupus dan perlahan justru menjadi amarah yang siap meledak kapan saja.
Sosok pemimpin yang diharapkan mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik
justru kian hari mempertegas sinyalemen kemunduran bangsa ini dibawah
komandonya.
Sinyalemen-sinyalemen
tersebut sejatinya mudah kita lihat hari ini, mulai dari keadaan ekonomi kita
yang semakin kronis hingga persepakbolaan kita yang semakin bobrok. Belum lagi
stabilitas politik serta kesatuan bangsa kita yang semakin terancam. Barangkali
hal ini masih bisa diperdebatkan, namun di pemilu kemarin kita dapat melihat
api perpecahan tersebut tersulut diantara kita selain itu pemilu yang dianggap
sebagai pesta demokrasi telah membuat bangsa ini seolah dirubah menjadi orang
lain yang saling mencurigai satu sama lain.
Dan yang lebih
memprihatinkan lagi keadaan ini justru tampak jelas juga terjadi pada para wakil rakyat serta
petinggi-petinggi negara yang seharusnya menjadi teladan bagi bangsa ini. Mulai
dari dua kelompok partai politik yang belum juga mampu meredakan ego dan
memulai kerjasama bahu-membahu membangun
bangsa ini serta konfrontasi antara lembaga penting negara yang membuat rakyat
semakin cemas akan masih tegaknya hukum
di negeri ini.
Berkaca
pada perjuangan pra-kemerdekaan
Keadaan
bangsa yang sangat plural ditambah sistem politik yang membuka jalan bagi kita
untuk mendirikan organisasi atau partai politik secara mudah saat ini
justru dianggap sebagai bumerang yang
mengancam kesatuan bangsa ini apabila tidak dapat di akomodir dengan baik.
Hal
ini bukan tanpa dasar, banyaknya isu
yang berkaitan dengan SARA akhir-akhir ini ditambah menjamurnya partai-partai
pragmatis tanpa visi dan misi yang jelas
untuk bangsa ini sedikit banyak menggambarkan bahwa kedua hal ini belum dapat
kita akomodir dengan baik.
Jika
kita berkaca pada pergerakan ataupun organisasi politik pada zaman
pra-kemerdekaan tentu akan jauh berbeda dengan apa yang terjadi saat ini.hadirnya
pergerakan atau partai politik dengan banyaknya perbedaan-perbedaan mulai dari
suku, agama maupun ideologi justru membuat bangsa ini semakin kuat melawan kaum
imperialis dan kolonialis. Dan hadirnya suatu pergerakan saat itu juga mampu
menginspirasi dan memicu tumbuhnya pergerakan-pergerakan lain dalam bidang yang lain pula.
Hal
ini dikarenakan saat itu para pendiri bangsa ini sadar betul dan mengerti
penderitaan bangsa ini dan kata “merdeka” menjadi kata pemersatu bagi segala
perbedaan yang ada saat itu. Kedua faktor tersebutlah yang meruntuhkan ego para
pendiri bangsa ini serta menanamkan toleransi diantaranya sehingga cita-cita
yang luhur tersebut benar terwujud.
Dan
kedua faktor tersebutlah yang seharusnya mampu dimanifestasikan pada para aktor
politik yang sedang mengemban amanah. bukan hanya amanah rakyat tetapi juga para
pendiri bangsa yang telah mendahului kita.sikap gotong royong, saling
menghargai serta kemampuan untuk dapat benar-benarmemahami permasalahan bangsa
yang langka terlihat dalam perilaku ataupun etika para pelaku politik saat ini harus segera dan mulai
dibangun kembali.
Namun
juga tidak dapat kita kesampingkan yang jauh lebih penting lagi hal tersebut
juga urgent untuk kita tanamkan kepada generasi muda saat ini yang kelak juga memegang estafet kepemimpinan
bangsa . karena dalam sejarahnya pemuda selalu menjadi garda depan perubahan
bangsa ini dan sebagai motor pergerakan-pergerakan saat pra-kemerdekaan untuk
merebut kemerdekaan maupun reformasi.
Kemana
Mahasiswa?
Mengapa
Mahasiswa? Karena tak ada ceritanya tukang becak menjadi seorang reformis, para
pendiri bangsa ini adalah orang-orang pintar yang mengenyam pendidika tinggi.
Dan mahasiswa sebagai pemuda intelektual merupakan kunci dari perubahan bangsa ini nantinya.
Reformasi
yang sejatinyadipeloporiolehparamahasiswaharusnyadapatdimanfaatkansebaik-baiknyadanmampumenempatkanmerekadalamperananstrategisdidalamperkembanganmasyarakat
Indonesia.Namun, duawindupascareformasijustru yang
terjadiadalahsemakintenggelamnyagerak-gerikmereka,bahkansebagianhanyadapatkitatemui
di jalanansaja dan dengan tema-tema picisan pula.
Kurang
pekanya mahasiswa terhadap isu-isu politik serta kepedulian yang minim terhadap
kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah yang berimplikasi terhadap
nasib masyarakat menjadi pembeda antara karakter pemuda saat ini dengan pemuda
saat pra-kemerdekaan.
Sebagai contoh
baru-baru ini aksi yang dilakukan masyarakat di kaki gunung Watuputih, rembang.
Yang melakukan penolakan atas eksploitasi yang dilakukan korporasi semen
terhadap bahan tambang disana.dan yang mengejutkan lagi, penolakan tersebut
juga diperuntukkan kepada salah satu instansi perguruan tinggi di jogjakarta
terkait dengan beberapa pernyataan yang dilontarkan oleh salah satu dosen
disana.Dan disini dapat kita lihat secara jelas pergeseran makna pengabdian
masyarakat yang termaktub dalam tri dharma perguruan tinggi menjadi pengabdian
terhadap korporasi mengingat adanya keterlibatan perguruan tinggi disana dan
yang juga harus digarisbawahi mahasiswa lengah dalam kasus ini.
Dari
kasus tersebut dan mengingat begitu besarnya peran mahasiswa bagi masa depan
bangsa ini mau tidak mau mahasiswaharus dituntut lebih untukmengaktualisasikanperanannyasebagaipemudaintelektual
yang
mampumemberikontribusinyataterhadapbangsainidanbukanhanyasebagaiumpanpeluruatautumbalyang
biasanyaterjadidalamsebuahmedanperang, gerakanrevolusidanreformasibelaka.
Selain
dituntut untuk mampu memberi andil dalam masing-masing bidangnya mahasiswa juga
harus harus mampu tampil menjadi kelompok penekan yang mampu mengontrol pemerintah agar melakukan tugasnya
dengan baik. Lebih dari itu dengan adanya kepedulian terhadap isu-isu politik
itu artinya mahasiswa juga peduli terhadap nasib serta masa depan bangsa ini.
dan semakin banyak mahasiswa yang peduli terhadap bangsa ini tentu akan menjadi
modal yang penting akan kesejahteraan bangsa dan demokrasi di masa depan.
0 komentar:
Posting Komentar