يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ
الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke
dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan.
Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.– (QS.2:208)
Sangatlah mudah mencermati ayat
diatas, Insya Allah kita semua paham maksud dari ayat tersebut bahwa dalam
menjalani kehidupan sebagai umat islam tidak boleh setengah-setengah dan harus
secara total, yang dalam ayat tersebut dikatakan masuk ke dalam islam secara kaffah atau secara keseluruhan. Dimana
secara keseluruhan yang dimaksud adalah islam yang mencakup segala aspek, mulai
dari yang berkaitan dengan iman, akhlak, ibadah, muamalah bahkan yang berkaitan
dalam urusan pribadi,berumah tangga, bermasyarakat maupun bernegara.
Tentu pemandangan islam
secara kaffah yang pernah diamalkan
oleh Rasul dan sahabatnya ini menjadi sesuatu yang langka dan cenderung utopis
untuk kita temukan dalam generasi saat ini yang sedang dalam ambang dekadensi akhlak,
kemerosotan aqidah dankrisismoralyang jelas menunjukkan bahwa banyak dari kita tanpa
disadari telah mengikuti langkah-langkah syaitan seperti yang tertulis dalam
ayat diatas. Lebih dari itu,mungkin ada diantara kita bahkan telah lalim dan menyamai
prestasi iblissebagai makhluk yang hanya sekedar mengakui adanya Allah namun
tidak mau tunduk dengan apa yang di syariatkanNya.
Tak dapat dipungkiri
bahwa zaman yang kita hadapi saat ini lebih berat dari tantangan umat muslim
pada zaman nabi terdahulu, khususnya dalam hal keislaman. Dimana
bisikan-bisikan syetan di zaman ini mampu tersamarkan oleh kecanggihan
teknologi dan informasi yang mampu merambat melalui segala penjuru mulai dari
televisi, media massa, ataupun internet. Dekadensi dan degradasi akhlak serta
aqidahpun secara bebas dapat tampil dalam selimut ilmu pengetahuan yang
menggiurkan namun menyesatkan.
Di tengah tantangan yang begitu
berat yang telah penulis paparkan diatas, lantas dimanakah posisi kita saat ini
seharusnya?, cukupkah dengan menjadi muslim saja-yang hanya memenuhi lima rukun
islam dan enam rukun iman kita mampu membendung arus kemerosotan zaman ini dan
lolos dari gilasannya? Bersandar dari pertanyaan-pertanyaan tersebut essay ini
juga akan berusaha untuk menjawab muslim
yang ideal dalam menghadapi tantangan-tantangan dalam kemerosotan zaman ini.